Tuesday, 23 September 2014

Pemimpin di mata penulis

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Pada ketika ini banyak isu-isu yang berkenaan tajuk di atas yang berlaku di negara kita yang dicintai ini. Setiap orang pasti mempunyai pendapat masing-masing berkenaan pemimpin yang dipilih di peringkat negara, negeri, tempatan dan sebagainya.

Penulis pada hari ini ingin menulis perkara berkenaan pemimpin secara umum. Maksudnya bukan bicara sebagai pemimpin negara, negeri atau tempatan sahaja, tetapi apa yang penulis ingin sampaikan adalah kepada semua orang yang ingin menjadi pemimpin kepada diri sendiri, keluarga, organisasi, kumpulan, jemaah dan sebagainya.

Apa yang ingin penulis sampaikan pada hari ini adalah ciri-ciri pemimpin yang perlu ada dalam diri yang dipersetujui oleh penulis mengikut kata-kata dari orang di luar sana.

1) Berupaya menjaga agama dan menegakkan syariat Allah.
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (Al-Jaatsiyah 45:18)


2) Memiliki kekuatan atau kesihatan fizikal, spiritual dan mental untuk menanggung kerja dan amanah yang dipikul.
"Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah 2:247)

3) Memiliki sifat taqwa dan berintegriti

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."(Al-Hujuraat 49:13)

4) Amanah, adil dan tidak berlaku zalim atau mengamalkan diskriminasi

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Maa'idah 5:8)

5) Bertanggungjawab dan tidak sombong terutama kepada pengikutnya

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (Luqman 31:18)

6) Tegas dan berpegang teguh kpd prinsip adil, amanah dan integriti

"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (Ar-Rahman 55:9)

7) Berakhlak dan berbudi pekerti mulia
"Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat." (Shaad 38:46)

8) Menunaikan janji dan tidak berdusta atau berbohong
"Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta."(At-Taubah 9:77)

Demikianlah apa yang penulis dapat sharekan. Semoga dapat manfaat insyaa Allah. 



Alhamdulillah
Peace.

Thursday, 18 September 2014

Mulut bicara, Hati diam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Mulut bicara, hati diam

Apa yang dimaksudkan dengan tajuk di atas? Pasti ada pembaca yang dapat menafsirkan atau memberi gambaran apa yang difikirkan. Mari kita renung sejenak......

Bagi pandangan penulis pula, kadangkala mulut kita akan mengeluarkan kata-kata yang kurang sesuai atau elok pada masa yang tidak sesuai dan sebagainya. Contohnya apabila kita didorong dengan perasaan marah disebabkan nafsu kita sendiri atau kita sudah biasa dalam perbuatan harian kita untuk berkata-kata yang menyakitkan atau menyinggung perasaan orang lain. Apakah puncanya? adakah dengan menggunakan alasan 'itu adalah diri aku' atau 'maaf, aku hanya manusia biasa' dengan tidak cuba ambil sikap untuk mengubah malah langsung tidak berusaha. 

Ya, penulis faham bukannya mudah, kerana penulis juga tidak lepas dari membuat kesilapan, oleh itu, penulis cuba mengkaji sikap diri sendiri ini yang tidak mendatangkan faedah. Sekiranya apa yang keluar dari mulut itu kata-kata yang baik, pasti memberi manfaat kepada diri dan juga orang lain. Namun, bagaimana di sebaliknya? mungkin memberi manfaat kepada orang lain atau mungkin akan merosakkan hubungan sesama kita. Fikirkan...

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, " (Al-Mukminun 23:1-3)

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun." (Al-Baqarah 2:262-263)

Bacalah ayat Al-Quran ini dengan tenang dan lapang hati, dan cuba fahamkan dan renungkan. 

Sedangkan Allah berfirman bahawa perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi sesuatu yang menyakitkan perasaan. 

Ya bukan mudah, namun sekiranya mudah bukan jihadlah namanya. Insyaa Allah

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. " (Al-Baqarah 2:153)

Alhamdulillah
Peace.


Wednesday, 29 January 2014

Ilmu Yang Sahih

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ   
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Penulis bersyukur kepada Allah s.w.t, kerana zaman ini makin ramai yang ingin berhijrah daripada jahil atau tidak berilmu dalam agama ke arah mencari jalan yang diredhai Allah. Lebih-lebih lagi ramai belia yang makin suka berdakwah melalui alam siber ini. Namun begitu kita perlu tahu yang mana Haq dan yang mana Bathil. 

"Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka." (Muhammad 47:2)

Allah juga berfirman,
"Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? " (Huud 11:14)

Allah ajarkan kepada kita ilmu-ilmu supaya kita dapat melalui jalanNya dengan izinNya. Ingat! Apa yang penulis tekankan disini adalah Allah yang mengajar kita, kerana Allah Maha Mengetahui, melalui Rasulullah s.a.w, oleh kerana itu kita perlu berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah RasulNya, sejajar dengan satu hadis Rasulullah s.a.w. ketika khutbah Jumaat terakhir baginda,

Rasulullah bersabda " Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. iaitu Kitabullah dan Sunnah RasulNya." 

Jadi di sini, penulis ingin kongsikan kepada pembaca-pembaca, atas sebab di laman sosial kini, ramai juga yang suka share hadis-hadis yang palsu namun begitu ramai juga yang akan share kan kembali tanpa mengetahui sama ada sesuatu hadis itu sahih atau tidak. Peringatan, apabila kita post sesuatu hadis Rasulullah yang palsu, ia umpama kita mengatakan apa yang Nabi tidak pernah beritahu, jadi itu dikira perkara yang diada-adakan atau dengan kata kasarnya fitnah. 

Berikut adalah jenis-jenis hadis yang utama :
1) Hadis Sahih
Hadis yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir dan oleh orang-orang yang sempurna hafalannya.
Syarat hadis sahih, iaitu:
a. sanadnya bersambung,
b. perawinya sudah baligh
c. berakal
d. tidak mengerjakan dosa
e. sempurna hafalannya
f. perawi yang ada dalam sanad itu adil dan hadis yang diriwayatkannya tidak bertentangan dengan ayat Al Quran.


2) Hadis Hasan
Hadis yang berhubung/bersambungan sanad dari permulaan hingga akhir dan periwayat-periwayat tersebut bersifat seperti Al-Hadis Sahih, tetapi mereka tidak mempunyai ingatan yang kuat. Disegi hafalannya kurang dari hadis shahih.


3) Hadis Dho'if
Hadis yang tidak bersambung sanadnya, atau di antara sanadnya ada orang yang cacat. Cacat yang dimaksud, rawinya bukan orang Islam, atau belum baligh, atau tidak dikenal orang, atau pelupa/pendusta/fasik dan suka berbuat dosa.


4) Hadis Maudhuk' [Hadis Palsu]
Hadis yang diriwayatkan oleh mereka dengan mendustakannya dari Nabi saw pada halnya nyata tidak. (Diriwayatkan berdasar kepentingan tertentu).


Sekiranya ingin belajar dengan lebih lanjut berkenaan hadis, silalah rujuk guru-guru, ustaz-ustaz, syeikh, ulama', dan juga orang-orang yang lebih pandai dari segi ilmu hadis. Carilah mereka yang lebih pakar dalam ilmu hadis, malah di luar sana juga terdapat kitab-kitab dari imam bukhari, muslim, abu dawud dan sebagainya, malah terdapat juga di online. Jadi tiada sebab untuk kita katakan yang susah untuk cari ilmu atau tiada masa sedangkan Allah beri kita cukup sifat untuk berfikir. UMAT ISLAM ITU PANDAI. 

Moga pembaca dapat manfaat dengan izin Allah s.w.t . 

Be Postive...
Alhamdulillah
Peace  

Monday, 27 January 2014

Bahaya Apabila Tidak Berfikir

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan kes meletakkan banner "Jesus is the son of Allah" di 3 gereja di Penang. Ramai yang melantun dan agak marah dengan tindakan meletakkan banner tersebut kerana statement itu bercanggah dengan akidah Islam kita. 

Namun begitu, apabila wartawan dan juga orang ramai bertanya kepada pihak gereja, mereka menegaskan bahawa bukan mereka yang meletakkan banner tersebut, tetapi mungkin terdapat pihak-pihak tertentu yang cuba mendatangkan sentimen-sentimen kebencian. 

Kemudian, pada pagi ini, penulis telah membaca dari satu akhbar yang melaporkan terdapat pihak yang melontarkan bom buatan sendiri dari botol arak ke arah salah satu gereja tersebut. Satu lagi insiden yang perlu diambil perhatian kerana tindakan yang tidak bertanggungjawab ini. 

Apa pendapat pembaca semua? Sekiranya benar bukan pihak gereja yang meletakkan banner tersebut, jadi siapakah yang bertanggungjawab? Mengapa ada pihak-pihak yang suka sangat membuat provokasi? 

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al-Hujuraat 49:6)


Apa yang ingin penulis tekankan di sini, periksalah sesuatu itu dengan teliti dahulu sebelum membuat tindakan yang meluru dan memberi kesan yang negatif. Fikirlah wahai pembaca sekalian...BERFIKIRLAH.


Jangan cepat melenting apabila mendengar sebuah berita atau cerita yang kita tidak suka, perbuatan yang membuatkan kita benci, berfikirlah dahulu, rujuk Al-Quran dan Sunnah RasulNya dahulu, jangan bertindak mengikut perasaan, risau kita akan menyesal di kemudian hari. Allah Maha Mengetahui. 


" Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. " (Al-Baqarah 2:190)

Renungkan, bukalah minda dan jadilah INSAN yang bertamadun. ISLAM ITU MAJU.

Alhamdulillah

Akhlak itu Penting?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Terima kasih diucapkan dahulu kepada pembaca-pembaca yang sudi meluangkan masa untuk membaca apa yang ingin penulis sampaikan. Inilah entri pertama selepas kita menyambut Tahun Baru Masihi, maaf dipinta atas penulis tida meng'update'kan blog ini walaupun sudah tumbuh sesawang yang agak banyak dan boleh mendatangkan kemudaratan kepada pembaca-pembaca yang ada alergik kepada habuk. 

Tajuk kali ini penulis ingin bertanyakan, adakah akhlak itu penting? Kenapa penting? perlukah kita berakhlak baik? Adakah akhlak ini boleh mempengaruhi kehidupan seharian kita?

Apa itu akhlak? Menurut bahasa yang dikaji oleh penulis, akhlak bererti tabiat,kelakuan, perangai, tingkahlaku, adat, kebiasaan. Kita ada akhlak yang baik dan juga akhlak yang tidak baik. Sekiranya bertanyakan kepada pembaca yang mana perlu kita ada? pasti para pembaca menjawab akhlak yang baik. Mengapa?

Mari kita berfikir, bagaimana akhlak seseorang itu dapat mempengaruhi orang berdekatan yang lain, tidak kira di sekolah, tempat kerja, rumah atau juga tempat-tempat awam. Contohnya, akhlak sebagai guru, pastinya guru tersebut perlu menunjukkan contoh yang baik, kerana murid-murid atau pelajar-pelajar memandang tinggi ke atas guru-guru mereka yang mempunyai ilmu yang lebih dari diri mereka. Sama juga sebagai seorang ibu bapa yang dipandang anak sebagai guru nombor satu atau pemimpin, dan juga kakak atau abang di dalam sebuah keluarga. 

Di dalam negara juga sama, apabila rakyat-rakyat, pengikut-pengikut seseorang pemimpin, pasti akan memandang tinggi ke atas ketua-ketua mereka, secara logiknya, pemimpin yang berakhlak baik pasti mempunyai pengikut-pengikut yang berakhlak baik dan juga sebaliknya. Namun apa yang ingin pembaca tekankan di sini adalah supaya pembaca-pembaca sekalian cuba membukakan mata dan lihat keadaan kita sekarang.

Adakah akhlak kita boleh dikategorikan baik? Kenapa tidak? Sedangkan kita ini adalah umat Muhammad s.a.w?
Sedangkan ada juga pihak yang suka pecah belahkan sesama muslim sendiri, dengan cara-cara mereka sendiri. Mengapakan berlakunya sedemikian? 

Allah berfirman,
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-A'raf 7:56)

Rahmat Allah amat dekat pada orang-orang yang berbuat baik, jadi bagaimana kita ingin berbuat baik? kepada siapakah yang kita perlu contohi? Mengikut pendapat pembaca semua, siapakah manusia yang sempurna?

Sudah pasti Nabi Muhammad s.a.w, Rasulullah terakhir yang diutuskan untuk kita sebagai pembawa berita gembira dan peringatan. 

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. " (Al-Ahzab 33:21)

Di sini, penulis berharap pembaca-pembaca dapat manfaat dari penulisan ringkas dalam tajuk akhlak ini. Ingin penulis ingatkan kepada pembaca-pembaca di luar sana, termasuk juga kepada yang ingin menjadi ustaz dan ustazah, pendakwah-pendakwah, rakyat Malaysia, manusia-manusia biasa, jagalah akhlak kamu dari segi perbuatan, percakapan dan juga penulisan. Janganlah berhujah atau berkata mengikut sangkaan atau nafsu amarah kerana kita adalah umat ISLAM, umat yang SEJAHTERA. Al-Quran dan Sunnah RasulNya, back to basic.

Peace

Wednesday, 16 October 2013

Amanah - Penting

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Biasa sahaja kita mendengarkan perkataan 'AMANAH' ini dimana-mana sahaja seperti di sekolah, tempat kerja, di bank, dan sebagainya. Apa itu amanah? kenapa perlu kita mementingkan amanah ini? apakah perkara yang kita lakukan itu tidak dikira pecah amanah? 

Sempena hari raya AidilAdha, amanah juga memainkan peranan penting dalam mengerjakan ibadah. Dari segi pembahagian daging-daging kepada yang memerlukan. Namun begitu ada juga yang tidak sempurna pengurusannya, jadikan sebagai pelajaran kepada kita untuk membaik pulih akan pengurusan pembahagian dengan lebih baik. Penulis tekankan mengenai pengurusan ini adalah kerana ada juga pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab telah mengambil apa yang bukan hak mereka. Penulis mengetahui perkara ini dari sahabat penulis sendiri di masjid berdekatan rumahnya. Moga-moga perkara ini tidak terjadi di kawasan lain insyaa Allah.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (AQ 8:27)

Allah memberi peringatan kepada kita pentingnya menjaga amanah itu, lebih-lebih lagi amanah yang telah diberikan kepada semua manusia. MENJALANKAN PERINTAH ALLAH DAN TINGGALKAN LARANGAN-NYA. 

Wahai sahabat-sahabat pembaca sekalian, muhasabahlah diri, lapangkan dada dan lihatlah diri, nasihat ini termasuk kepada diri penulis sendiri, apakah sudah cukup segala amalam-amalan kita sebagai pembawa amanah ini? Tidak kira diri itu pemimpin atau orang bawahan dalam sesebuah negara, organisasi, kumpulan, keluarga, sekiranya kita telah diberi tanggungjawab itu, buatlah dengan ikhlas dan bertanggungjawablah ke atas apa yang telah diamanahkan itu. Contohnya bekerja, buatlah kerja dengan sedaya upaya. Moga mendapat manfaat.

p/s - penulis tidak sempurna

Alhamdulillah
Peace

Sunday, 13 October 2013

Kisah Nabi Ibrahim Di Dalam Al-Quran

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Sempena Hari Raya AidilAdha ini, penulis ingin sharekan kisah Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s. berkenaan korban di dalam Al-Quran. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya insyaa Allah. 

Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101)
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."  (102)
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). (103)
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, (104)
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106)
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107)
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108)
(yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim."  (109)

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (110)
(Surah Ash Shaaffaat ayat 101-110)

Alhamdulillah
Peace


 

Cetusan Pemikiran Alpa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatu

Semakin hampir kita kepada sambutan Aidiladha, dimana umat muslim di seluruh dunia, sebahagian mengerjakan ibadah haji dan Qurban. Bagaimana sambutan para pembaca? Moga segalanya dilancarkan. Dengan ini, penulis ingin mengucapkan selamat hari AidilAdha kepada semua sahabat pembaca sekalian.

Setiap dari kita telah dan akan diberi ujian dari Allah, dimana ia akan menggugat atau menguatkan lagi iman kita, dimana kita berasa kita tidak mampu menempuhinya atau kita redha. Kita sering bertanya kenapa kita diberi ujian sedemikian? apa kesalahan yang kita buat? Mengapa kita? Mengapa tiada yang ambil peduli akan diri kita? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Ada juga nasihat-nasihat dan juga penulisan, video atau sebarang media yang kita jumpa, mengatakan jangan bersedih, namun masih tidak dapat mengubati hati yang keliru ini. Mengapa? Kita bersama-sama sahabat kita minum teh di petang hari, atau bergembira bersama mereka namun masih tidak dapat mengubati hati? Mengapa? Apa yang ingin kita carikan selama ini? Mari kita fikirkan.

Betulkah hala tuju kita? Betulkah apa yang kita lakukan? Cukupkah ibadah kita? Cukupkah iman dalam diri kita? Cukupkah segala perkara baik yang kita lakukan? Apakah hikmahnya segala kesusahan dan masalah yang kita hadapi? Soalan-soalan beginilah yang patut kita fikir supaya dapat muhasabah diri. Namun kerana atas keegoan, kita tidak mahu menerima hakikatnya, kerana keegoan, kita menyombong diri dan tidak mahu rendah diri kepada-Nya. Padahal di mulut, kita sering beritahu yang kita tahu Allah berikan ujian dan ada hikmah di sebaliknya, tetapi di dalam diri masih tidak puas hati akan jawapan itu. Kenapa?

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (AQ 2:214) 

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. " (AQ 2:155) 
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" " (AQ 2:156)

Semoga kita dapat memikirkan apakah jawapannya bersama Insyaa Allah. 

Alhamdulillah
Peace 

Monday, 30 September 2013

Harta OH Harta

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Duit sentiasa tidak cukup bagi kita. Biarlah gaji sebanyak mana pon tetap tidak cukup apabila menyelesaikan segala komitmen yang ada. Mengapa kita ada perasaan begitu? Pernah tanya kepada diri sendiri tak? Kenapa kita merasakan duit sentiasa tidak cukup, sehingga menghalang kita untuk bersedekah? Penulis pernah dengar gaji RM3000 sebulan pun tidak cukup, bayangkanlah orang itu tinggal di rumah ibu bapa, dan masih bujang. Bukanlah ingin memburukkan tetapi penulis mengajak para pembaca mari ramai-ramai bertanyakan soalan ini kenapa?

Zaman konon moden ini, manusia lebih suka menuding jari kepada orang lain atas kesusahan diri sendiri. Contohnya boss yang kedekutlah, gaji tidak setimpal dengan kerjalah, kene banyak bayar cukailah, banyak habis duit kepada orang lainlah, harga barang naiklah, kereta sekarang mahal lah, dan sebagainya. Ya, memang betul, tapi adakah kita buat perkara yang betul? Adakah mengeluh itu tindakan yang betul? Negatif menarik negatif, law of attraction. 

Penulis juga pernah berada dalam keadaan menyalahkan orang lain atas kesusahan diri, dan mengikut pengalaman penulis sendiri, tiada yang positif datang dari itu. Malah, apabila dapat harta, hati masih merasa tidak cukup. Harta bukanlah menjamin kebahagiaan dan ketenangan di hati. Serius!!! Lalu penulis mencari apa erti kebahagiaan yang HAQ. Dan penulis ingin mengajak bersama para pembaca yang AWESOME ini untuk sama-sama mencari erti kebahagiaan yang sebenar. Bukanlah kita nak meninggalkan pekerjaan atau tidak mementingkan harta, cuma kita tukar sedikit niat dan sebab kita untuk mencari harta itu. Kita mencari harta untuk dinafkahkan atau sedekah atau beri kepada orang yang lebih memerlukan seperti ibu bapa, isteri, anak, anak yatim, perjuangan, atau apa-apa sahaja yang mendatangkan kebaikan. Dengan itu, sendirinya kita tidak akan merasa kesempitan di dalam dada insyaa Allah. Sekadar peringatan kepada diri sendiri dan juga sahabat pembaca. ;)

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (Al-Baqarah 2:254)



Peace
Alhamdulillah

Sunday, 29 September 2013

Hati Yang Hitam...



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Semasa kita dilahirkan, kita umpama sehelai kain putih yang bersih dan suci, kemudian kita akan diwarnakan dengan keadaan sekeliling kita seperti didikan ibu bapa, kasih sayang mereka dan keluarga, sahabat-sahabat sehinggalah kita dewasa dimana setiap dari kita diwarnai dengan warna-warna yang gelap dan juga terang. Suasana di luar juga memainkan peranan penting dalam membentuk identiti kita seperti di sekolah, apa yang kita tengok di tv, wayang, lagu yang didengar, buku-buku yang dibaca (bagi yang berminat untuk membacalah kan) serta di ‘online’.

Penulis juga dari kecil hingga ke alam dewasa ini bukanlah sempurna, ada ketika dalam keadaan terang dan pernah juga dalam kegelapan pada waktu yang agak lama. Penulis tidak ingin membuka aib sendiri tetapi ingin mengingatkan pada diri dan juga sahabat pembaca sekalian bahawa kita ini hanyalah hamba yang hina dan tidak sempurna. Manusia sering kali melakukan kesilapan, Cuma bezanya adakah kita sedar akan kesilapan kita itu? Ada yang mengakui dan ada juga yang penuh ego mengatakan diri sentiasa benar. Tanyalah kepada diri kita sendiri, apakah tindakan atau perbuatan kita sentiasa betul atau salah. 

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan kita, bukan selama-lamanya hidup, satu hari nanti kita akan mati, Allah akan bangkitkan kita untuk dihisab. Subhanallah, Allah yang Maha Pemurah, telah berikan kita bermacam-macam nikmat, supaya kita bersyukur, namun saying, kita alpa dengan godaan di atas dunia ini. Malah kita lupa bahawa Allah sentiasa beri kita ujian untuk meningkatkan keimanan kita. Setiap orang ada kisah silam, tidak bermaksud mereka perlu dihakimi oleh orang yang lain, namun kita sepatutnya bersama-sama mencari jalan yang diredhai Allah.

Marilah beristigfar ramai-ramai, kerana pada zaman ini, kita yang menggelar diri sebagai umat Muhammad, seharusnya mengambil sikap Rasulullah s.a.w itu kerana sebaik-baik sifat manusia adalah sifat Nabi Muhammad s.a.w. Allah berfirman “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab 33:21)

Hati yang hitam dan gelap masih boleh menjadi putih, masih boleh dibersihkan, selagi kita masih bernafas. Tiada istilah “aku dah banyak buat dosa, layakkah aku?”, kita diberi mata, telinga dan hati supaya bersyukur, jadi fungsikan segala deria yang ada untuk mencari jalan yang mana Allah redhai mudah-mudahan. Apa guna akal jika tidak berfikir? Apa guna harta jika tidak digunakan untuk kebaikkan? Apa guna ilmu jika tidak dikongsikan bersama? Mohonlah petunjuk dari Allah, insyaa Allah hidayah atau seru itu sampai. 

Penulis faham untuk berubah itu bukan mudah, atas pengalaman penulis sendiri, namun penulis yakin, dengan bersabar dan tidak putus asa, mencari sahabat-sahabat yang soleh, menjalani kehidupan berpandukan Al-Quran dan Sunnah RasulNya, kita akan menemui apa tujuannya kita hidup di atas muka bumi ini. Dengan itu, moga-moga hati yang hitam itu menjadi putih kembali. Itulah hitam putih kehidupan.

Penulis sedih kerana kadang-kadang penulis juga terkeluar dari landasan, syukur kepada Allah, Dia berikan segala ujian kepada penulis agar penulis sentiasa tahu kedudukan penulis sendiri. Jadi sebagai nasihat kepada diri ini yang lemah, serta kepada sahabat pembaca sekalian, usahlah kita tanya kenapa kita diberikan ujian yang berat, tetapi banyakkanlah berdoa kepada Allah supaya kita diberikan kekuatan untuk melepasi ujian-ujian yang dihadapi. Usah risau, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah 2:214)

Peace

Alhamdulillah

Saturday, 28 September 2013

Mata Melihat Alam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu

Dunia kini menjadi ujian kepada kita manusia di akhir zaman, pelbagai perkara yang terjadi di sekeliling dunia. Setiap negara ada isu-isu dan masalah-masalahnya tersendiri. Contohnya, kemiskinan, taraf hidup meningkat, perbezaan fahaman, politik yang huru-hara dan tidak stabil, isu agama, dan bermacam lagi.

Kita mempunyai hawa nafsu termasuklah penulis sendiri, setiap yang digelar manusia itu pasti akan membuat kesilapan. Bezanya cuma antara kita sedar atau tidak, setiap individu atau sesebuah kesatuan pasti mempunyai perjuangan masing-masing. Atas nama perjuangan walaupun berbeza pendapat yang kecil, kita akan cuba membesar-besarkan perkara itu lalu terjadilah perbalahan yang menyebabkan terhasilnya isu-isu baru. Sekiranya beginilah cara hidup kita, sampai bila-bila kita tidak akan AMAN. 

Pemikiran taksub atau radikal amatlah merbahaya, terlampau taksub kepada pemimpin, taksub kepada kehidupan mewah dan berharta, taksub kepada ajaran-ajaran yang diajar oleh seorang guru kepada anak muridnya, dimana ajaran itu hanyalah mengikut ideologi atau sangkaan semata-mata. Penulis bukanlah ingin mengutuk atau merendahkan seseorang atau sebahagian manusia, tetapi penulis ingin para pembaca lapangkan dada, bukalah minda dan lihatlah menggunakan mata yang diberikan Allah ini, lihatlah apa yang terjadi sebenarnya, jangan mengambil sikap tidak peduli kerana kita akan dipersoalkan kelak. Muhasabah diri la wahai pembaca semua, pesanan ini untuk diri penulis yang juga hina ini. 

Bukalah mata, IQRA' lah dunia, Bangkitlah dari tidur semua, Supaya generasi di masa hadapan akan hidup sejahtera. Insyaa Allah



Peace
Alhamdulillah
 

BERHABUK

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Apa khabar pembaca sekalian? Penulis ingin mohon maaf kerana sudah sekian lama penulis tidak meng'update' blog ini. Penulis telah alpa dalam kesibukkan di kehidupan dunia di luar sana sehingga lupa kepada tanggungjawab penulis di sini. Untuk menggantikan masa berbulan sebelum ini, penulis akan menyambung semula untuk entri-entri seterusnya. Moga kita semua dapat manfaat dari ini insyaa Allah. 

Peace
Alhamdulillah

Tuesday, 28 May 2013

Budaya Samun Berleluasa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Kes samun semakin banyak berlaku pada masa sekarang di Malaysia yang tercinta ini. Tidak kisah samun bersenjata atau tidak (kebanyakkan bersenjatalah, sekiranya tak bersenjata macam kelakar pula), di mana-mana sahaja boleh berlaku. Ada yang sehingga menyebabkan kematian, dirogol, dicabul dan macam-macam lagi. Inilah realiti.


Berdasarkan pengalaman sendiri, penulis juga pernah disamun sebanyak 2 kali, ada sahabat penulis juga pernah disamun, dan ada juga kenalan di mana keluarganya dibunuh. Penulis post entri kali ini bukanlah hendak menyumpah kepada penyamun-penyamun professional ataupun amatur ini, tetapi penulis ingin bukakan minda pembaca sekalian. 

Mari kita kaji semula, peringkat umur rakyat Malaysia dan juga bukan rakyat Malaysia yang memilih kerjaya sebagai seorang penyamun ini. Kes-kes yang baru kita dengar ini ada penyamun yang masih bersekolah hinggalah kepada peringkat abang-abang atau pakcik-pakcik. Ya, murid-murid sekolah dimana peringkat umur itu patut main guli, paling tidak pun main chopping (Sejenis permainan baling bola tenis ke tubuh badan atau lagi best ke muka, hehehe). Jadi mari kita melihat kepada punca kenapa murid-murid ini boleh jadi penyamun.

Cukuplah menyalahkan kerajaan, polis, cikgu sekolah dan sebagainya. Pada pendapat penulis, perkara-perkara ini boleh terjadi kerana pihak keluarga penyamun ini sendiri atau orang-orang di sekelilingnya. Kenapa penulis salahkan mereka? Apa kata pembaca tanya sendiri atau kaji sendiri penyamun-penyamun ini, penulis yakin mereka ada yang dari golongan yang susah dan terdesak, ahli keluarga yang berpecah, ibu bapa yang agak tidak normal dari segi pekerjaannya, didikan agama yang kurang, kurang perhatian dari ibu bapa, dan mungkin penyamun itu ada masalah mental. 

Penulis berpendapat pelajaran di sekolah seperti Pendidikan Islam dan Pendidikan Moral tidak cukup. Pendidikan yang paling penting adalah pendidikan di rumah. Anak-anak ini bukan nak duit sangat sebenarnya, bukan nak makan mewah, tapi hanya perlukan kasih sayang. Jadi kepada yang dah bergelar mak, ayah, ibu, bapa, mama, papa tu, beringat-ingatlah. Rezeki Allah yang beri bukannya kerja 24jam. Yang penting kita tahu bagaimana hendak bahagikan masa. Cari lagi ilmu-ilmu agama dan penulis jamin hidup anda lebih teratur. Kita perlukan AGAMA atau ikut bahasa mat sallehnya 'The Way Of Life' . 

Takkan pandai buat anak jer tapi ilmu untuk jadikan diri sebagai khalifah dan imam kepada family tiada. Bermuhasabahlah diri ya. Penulis bukannya sempurna tetapi penulis harap entri ini dapat memberi manfaat kepada pembaca. Marilah kita masyarakat yang hidup berjiran ini mengambil iktibar dan pelajaran dari orang-orang terdahulu. Belajar tinggi-tinggi tapi tidak belajar dari kesilapan sendiri atau orang lain pun tak guna juga. Sampai bila kita hendak hidup dalam ketakutan???

Yang baik datangnya dari Allah dan yang kurang baik adalah kesilapan penulis sendiri, dan mohon kepada pembaca-pembaca yang ada komen, atau pendapat, atau terdapat perkara yang dapat dibincangkan, mohon hantarkan email ke razasayang@gmail.com . Penulis berharap ada yang menyokong tidak kira memuji atau mengkritik, penulis terima dengan terbuka. Dengan ini, Peace.

Alhamdulillah

Perlukah Perjuangan?

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarrakatu 

Persoalan yang perlu ditanya pada diri sendiri. Ada jawapan "perjuangan mendenya?", "betulkan diri dulu", "takde tima la nak berjuang" bagi penulis perlu dibuang. Bukankah sebahagian manusia di luar sana pernah bertanya, "Apa tujuan kita hidup ekk?" . Penulis yakin mungkin ada pembaca juga pernah terfikir sedemikian, sama juga kepada penulis ketika zaman tak mengetahui dulu. 

Mari kita renungkan ayat Allat s.w.t ini, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdikan kepada-Ku." (AQ 51:56) 

Yes, abdikan diri kepada Allah. Jadi bagaimana kita ingin mengabdikan diri? Al-Quran ada 6236 ayat, dan Sunnah Rasulullah juga banyak mengajar kita, so penulis berharap pembaca dapat membuka fikiran dari sini. 

Zaman sekarang, belia-belia malaysia sangatlah aktif, mereka ingin mencari apa yang patut mereka perjuangkan, kerana darah mereka 'panas'. Jadi banyaklah NGO2, pertubuhan, persatuan, malah parti-parti politik yang disertai mereka untuk perjuangkan apa yang mereka inginkan atau apa yang mereka faham supaya dapat mencapai masa hadapan yang lebih baik. Namun ada juga pihak yang menggunakan belia-belia ini sebagai barisan hadapan untuk mencapai sesuatu yang batil atau salah. Sepatutnya sebagai orang dewasa yang mempunyai pengalaman patut membimbing belia-belia ini untuk menjadi insan yang cemerlang dan bukannya memanipulasikan semangat mereka untuk mencapai cita-cita yang menguntungkan sesebuah pihak. 


Apa yang ingin penulis tekankan di sini adalah YA, kita memerlukan perjuangan untuk hidup. Perjuangan untuk menjadi hamba Allah yang diredhai. Bagaimana? AlQuran dan Sunnah Rasulullah sebagai pegangan. Sabda Rasulullah," Kutinggalkan untuk kamu 2 perkara (pusaka), taklah kamu akan tersesat kepada keduanya, iaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya." (Sebahagian dari khutbah Jumaat Rasulullah pada 9 ZULHIJJAH TAHUN 10 HIJRAH) 

Perjuangan demi Agama yang Haq untuk mencapai KESEJAHTERAAN. 

Alhamdulillah
Peace 

Thursday, 16 May 2013

BROTHERHOOD

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatu

Hidup di atas muka bumi ini, kita tidak boleh berdiri dengan kaki sendiri. Biarlah dalam apa jua yang dilakukan, kita kena mempunyai sahabat-sahabat yang sanggup susah senang bersama umpama adik-beradik kandung. Inilah yang dikatakan brotherhood. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh. " (AQ 61:4)

Mengikut pengalaman penulis sendiri, bukan mudah untuk mencari sahabat yang sanggup berbuat demikian. Ramai yang bersama apabila senang, dan hanya segelintir yang bersama apabila diri dalam keadaan susah. Mungkin kerana ramai yang tidak faham apakah konsep brotherhood yang sebenar. Tetapi Alhamdulillah penulis berjaya menemui ramai sahabat yang sanggup bersama dalam perjuangan di atas muka bumi ini. 

Memang sudah terbukti, kita dapat capai sesebuah objektif apabila kita bersama. Objektif yang dikatakan disini bukanlah objektif keinginan atau cita-cita sendiri, tetapi kebersamaan dalam menyelesaikan sesuatu masalah. Setiap manusia mempunyai dugaan dan pengalaman yang berlainan, namun begitu "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."  (AQ 96:2) . Setiap manusia darahnya merah, tidak kira bangsa, kaum, kaya atau miskin, pemimpin atau pengikut, rambut yang bermacam warna, namun kita sama. 

Carilah sahabat yang mempunyai common goal, yang dikatakan common goal ini bukanlah ingin menjadi kaya, atau ingin jadi orang yang berkuasa, atau membuat perkara-perkara yang dilarang Allah, tetapi GOAL yang disebut ini ialah keinginan untuk hidup dalam kesejahteraan, keamanan, dan bahagia. Mengikut pengalaman penulis, ramai mempunyai sifat brotherhood yang kuat kerana hanya ingin mencapai kebahagiaan. Oleh itu, penulis ingin pembaca-pembaca juga tidak kira lelaki atau perempuan(jangan rasa tersisih kerana perkataan 'Brotherhood' ini sebab 'Sisterhood' pon boleh diaplikasikan.) mencari atau bersyukur dengan sahabat-sahabat yang bersama hingga kini. 

Kadangkala background setiap orang berlainan, namun mereka mempunyai semangat brotherhood yang kuat. Kenapa? Kerana mereka pasti pernah hidup susah bersama-sama dahulu. Bagaimana penulis boleh tahu? kerana penulis mempunyai sahabat-sahabat sedemikian Alhamdulillah. Ingat, kita hidup di atas muka bumi ini tidak boleh dengan kaki sendiri. 

Alhamdulillah   

p/s - Sekiranya ada pembaca yang ingin kongsikan pengalaman 'brotherhood' yang boleh penulis sharekan di blog ini, sila emelkan ke razasayang@gmail.com.